back
Unduh aplikasi
icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Sang Istri Pengganti: Menikahi CEO Miliarder

Sang Istri Pengganti: Menikahi CEO Miliarder

Roana Javier

5.0
Ulasan
8.9M
Penayangan
477
Bab

Julita diadopsi ketika dia masih kecil -- mimpi yang menjadi kenyataan bagi anak yatim. Namun, hidupnya sama sekali tidak bahagia. Ibu angkatnya mengejek dan menindasnya sepanjang hidupnya. Julita mendapatkan cinta dan kasih sayang orang tua dari pelayan tua yang membesarkannya. Sayangnya, wanita tua itu jatuh sakit, dan Julita harus menikah dengan pria yang tidak berguna, menggantikan putri kandung orang tua angkatnya untuk memenuhi biaya pengobatan sang pelayan. Mungkinkah ini kisah Cinderella? Tapi pria itu jauh dari seorang pangeran, kecuali penampilannya yang tampan. Erwin adalah anak haram dari keluarga kaya yang menjalani kehidupan sembrono dan nyaris tidak memenuhi kebutuhan. Dia menikah untuk memenuhi keinginan terakhir ibunya. Namun, pada malam pernikahannya, dia memiliki firasat bahwa istrinya berbeda dari apa yang dia dengar tentangnya. Takdir telah menyatukan kedua orang itu dengan rahasia yang dalam. Apakah Erwin benar-benar pria yang kita kira? Anehnya, dia memiliki kemiripan yang luar biasa dengan orang terkaya yang tak tertandingi di kota. Akankah dia mengetahui bahwa Julita menikahinya menggantikan saudara perempuannya? Akankah pernikahan mereka menjadi kisah romantis atau bencana? Baca terus untuk mengungkap perjalanan Julita dan Erwin.

Bab 1
Dia Hanya Seorang Pria

"Aku telah memberikan seluruh diriku padamu. Kenapa kamu tidak putus dengan Julita?" tanya sang wanita dengan suara terengah-engah yang menggoda. Kini tubuhnya setengah telanjang dan berada di atas seorang pria.

"Jangan sebut namanya saat kita berdua sedang bermesraan." Pria itu begitu bersemangat sehingga dia meremas dada wanita itu dan mengerang dalam kenikmatan.

Sang wanita tampak tidak puas karena dia tidak mendapatkan jawaban yang diinginkannya. "Tidak! Dia adalah putri angkat -- bahkan anjing keluarga kami memegang posisi yang lebih penting dibanding dia. Apa bagusnya sih dia itu?"

Pria itu tidak memberikan tanggapan apa-apa. Dia mencengkeram pinggang wanita itu dan mendorong tubuhnya lebih keras, yang membuatnya menjerit dan mendesahkan namanya.

Julita Lisna berdiri di depan pintu, mendengarkan semua suara yang ada di ruangan itu. Matanya yang lelah berubah menjadi dingin saat dia mengerti apa yang sedang terjadi.

Dia baru saja kembali dari rumah sakit.

Hanni, yang telah membesarkan Julita sejak dia masih kecil, didiagnosis menderita sirosis hati stadium lanjut tiga bulan lalu. Wanita itu membutuhkan transplantasi hati secepatnya. Julita harus mengumpulkan uang untuk membayar biaya pengobatan.

Yang memperburuk situasinya, adik perempuannya tidur dengan pacarnya. Julita merasa hidupnya benar-benar berantakan.

"Apa kamu mendengarku? Kamu harus memberitahuku keputusanmu malam ini. Dia atau aku. Pilihannya ada padamu." Jeslyn Lisna memukul ringan dada Sanji Karta, tidak sabar untuk bisa mendengar jawabannya.

Julita menendang pintu hingga terbuka dan memelototi pasangan itu. "Untuk apa bertanya? Dia hanya seorang pria. Kamu bisa mengambilnya jika kamu mau."

Meskipun Julita terdengar cuek, hatinya tetap hancur melihat pacarnya berselingkuh dengan adik perempuannya sendiri.

Sanji adalah teman sekelas Julita di kampus. Dia adalah seorang pria tampan dari keluarga kaya. Pria itu sudah mengejar Julita selama tiga tahun.

Dia telah menyatakan cintanya lagi tepat sebelum kelulusan mereka.

Pernyataan itu dilakukan di lapangan kampus mereka. Banyak orang di sekitar, dan hampir semua siswa lainnya telah menyaksikan adegan romantis itu. Kerumunan bersorak begitu ramai, dan Julita akhirnya setuju untuk menjadi pacarnya.

Rasa sakit atas pengkhianatan yang dia terima menghancurkannya. Melihat dua orang di hadapannya, Julita mengepalkan tinjunya dengan erat, kukunya menancap di dagingnya.

Sanji buru-buru mendorong Jeslyn menjauh darinya, mengenakan celananya, dan turun dari tempat tidur.

Karena itu Jeslyn hampir jatuh. Kata-kata yang diucapkan oleh Julita memicu kemarahan wanita itu.

Dia telah berusaha keras untuk naik ke ranjang pria kaya dan tampan seperti Sanji.

Julita telah memenangkan hatinya tanpa melakukan apa pun, yang membuat Jeslyn marah.

Bagaimanapun, Julita hanyalah seorang putri angkat di keluarganya.

"Mengambilnya? Kamu terdengar seperti kamu sudah mencampakkan Sanji. Sanji yang mencampakkanmu, murahan!" Jeslyn mencibir saat dia menarik selimut lebih dekat ke tubuhnya. Kemudian, dia memandangi Sanji dan bertanya, "Sanji, apa yang kamu katakan padaku di atas ranjang barusan? Katakan itu pada Julita!"

Sanji tidur dengan Jeslyn murni karena keputusan impulsifnya saja. Wanita itu telah merayunya, dan dia kehilangan kendali atas dirinya sendiri.

Dia berlutut dan meraih pergelangan tangan Julita. "Julita, maafkan aku. Aku tidak tahu apa yang aku pikirkan saat aku melakukannya."

Meskipun air mata memenuhi mata pria itu, mata Julita menatapnya dengan jijik. Begitu Julita memutuskan sesuatu, tidak ada yang bisa mengubah keputusannya.

Dia menarik tangannya dari genggaman Sanji. "Maafkan aku, Sanji. Aku tidak ingin apa pun yang telah dinodai oleh Jeslyn. Kalian berdua adalah pasangan yang sangat cocok. Ayo kita putus."

Jeslyn tercengang. Sanji berada di ambang kehancuran, tapi tidak ada sedikit pun kesedihan di wajah Julita. Kemarahan melonjak melalui nadinya karena dia tidak mencapai apa yang diinginkannya.

Julita tidak punya waktu untuk berbicara dengan mereka berdua. Jeslyn selalu ingin bersaing dengannya sejak mereka masih kecil dan dia senang mengambil apa pun milik Julita. Dia biasa merebut mainan Julita. Sekarang setelah mereka dewasa, dia merebut pacarnya juga.

Julita sudah terbiasa dengan hal semacam ini. Dia hanya khawatir tentang biaya pengobatan Hanni sekarang.

Tepat ketika dia hendak pergi, dia mendengar suara langkah kaki dari koridor.

"Ini sudah larut. Ada apa dengan keributan di sini?"

Orang tu

a angkat Julita, Benjamin Lisna dan Fiona Damanhuri, bergegas datang setelah mendengar keributan itu.

Benjamin yang masuk ke kamar terlebih dahulu. Matanya membelalak ngeri ketika dia melihat putrinya duduk di tempat tidur tanpa mengenakan apa-apa — kecuali selimut yang melilit tubuh telanjangnya. "Apa-apaan yang kamu lakukan ini? Kamu akan segera menikah. Apa yang kamu lakukan bersama dengan pria lain?" teriaknya.

Jeslyn memeluk dirinya sendiri dan menatap Benjamin dengan mata yang memerah. Dia menggertakkan giginya untuk menahan amarahnya.

Keluarga Lukito dan keluarga Lisna memiliki kesepakatan untuk menikahkan anak-anak mereka ketika mereka sudah tumbuh dewasa. Tunangannya adalah seorang anak haram, dan keluarga Lukito telah mengusirnya dari rumah sejak lama. Dia adalah pria yang miskin dan bahkan tidak memiliki pekerjaan yang layak. Dia hanya seorang pemalas yang menyia-nyiakan waktunya tanpa melakukan apa-apa. Jeslyn tidak ingin menikah dengannya.

Dia merasa pantas untuk mendapatkan seseorang yang lebih baik dari pria itu.

"Aku hamil!" ucap Jeslyn sambil menunjuk pada Sanji. "Aku sekarang sedang mengandung anaknya. Jadi aku tidak bisa menikah dengan pria lain. Lebih baik kalian batalkan pernikahannya."

Sanji tercengang mendengar itu. Dia hanya tidur dengan Jeslyn beberapa kali. Bagaimana bisa dia hamil?

"Omong kosong apa yang kamu ucapkan itu! Kamu harus menikah dengan keluarga Lukito!" Benjamin sangat marah. Dia ingin menampar Jeslyn karena sudah bertindak bodoh.

Bagaimanapun, pernikahan ini adalah urusan yang berhubungan dengan harga dirinya. Apa yang bisa dia katakan kepada keluarga Lukito jika mereka menanyakan alasan untuk membatalkan pernikahan itu?

Fiona dengan protektif berdiri di depan putrinya itu. Dia sangat melindungi Jeslyn dan jarang memarahinya. Suaminya mendidih dalam amarah, dan dia tidak bisa melihatnya terus meneriaki Jeslyn.

"Benjamin, kenapa kamu marah pada Jeslyn?" Fiona mulai menangis. "Julita juga putri dari keluarga Lisna. Dia juga bisa menikah dengan keluarga Lukito."

Benjamin dan Fiona tidak berhasil memiliki anak selama beberapa tahun pertama setelah mereka berdua menikah. Karena tekanan yang diberikan dari para tetua keluarga Lisna, mereka harus mengadopsi Julita. Bertahun-tahun kemudian, Fiona akhirnya hamil dan melahirkan Jeslyn.

Kejadian ini membuatnya membenci Julita. Keberadaan Julita di dunia ini adalah bukti ketidaksuburannya. Melihat wajah putri angkatnya saja sudah membuat Fiona kesal.

Setelah melahirkan Jeslyn, Fiona lebih memihak pada putri kandungnya dan membenci Julita.

Seiring berjalannya waktu, Julita tumbuh menjadi wanita yang lebih baik daripada putrinya dalam segala aspek yang ada. Hal itu hanya semakin meningkatkan kebenciannya pada Julita.

Kata-kata yang diucapkan oleh Fiona membuat Julita marah. "Kalian sudah setuju untuk menikahkan Jeslyn dengan keluarga Lukito, bukan aku," raungnya. "Mengapa Ibu berencana untuk menikahkanku hanya karena putri kesayangan kalian ini tidur dengan pria lain?"

"Kami sudah membesarkanmu selama ini. Sudah waktunya bagimu untuk membalas kebaikan kami, Julita," ucap Fiona dengan suara rendah, matanya berbinar dengan kelicikan. "Apakah kamu tidak ingin pelayan itu menjalani operasi yang dibutuhkannya? Kami akan membantu biaya pengobatan yang diperlukan selama kamu menikah dengan putra keluarga Lukito menggantikan Jeslyn."

Senyum puas muncul di wajah Jeslyn sekarang. Dia merasa Julita dan anak haram keluarga Lukito akan cocok untuk satu sama lain.

Julita menggertakkan giginya karena kata-kata Fiona tadi membuatnya marah. Namun, kata-kata sang dokter terlintas di benaknya. Hanni sudah tidak punya banyak waktu lagi.

Julita baru saja lulus dan tidak mampu membiayai pengobatan Hanni.

Meskipun Benjamin dan Fiona mengadopsi Julita, pasangan itu tidak pernah benar-benar peduli padanya. Hanni, pelayan keluarga Lisna, membesarkan Julita sendirian. Hubungan mereka seperti nenek dan cucu. Dia tidak bisa meninggalkannya sendirian.

Menyadari keraguannya, Fiona berjalan mendekati Julita. "Kamu juga harus menikahi seseorang di masa depan. Mengapa kamu tidak melakukannya untuk membantu kami dengan menikahi putra keluarga Lukito? Aku akan memberimu uang segera setelah kamu menikah dengannya."

Kaki Julita gemetar saat semua orang di ruangan itu menatapnya. Dia membutuhkan uang untuk membayar biaya pengobatan Hanni.

Air mata akhirnya mengalir membasahi pipinya. Dia menundukkan kepalanya dan menjawab dengan suara rendah. "Baik, aku akan menikah dengannya."

Unduh Buku