back
Unduh aplikasi
icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Istri Yang Diacuhkan

Istri Yang Diacuhkan

Queenazalea

5.0
Ulasan
20K
Penayangan
65
Bab

NOVEL KHUSUS DEWASA, YANG DI BAWAH UMUR HARAP BIJAK MEMILIH BACAAN. Arvin ingin bercerai, sementara Gina terus berusaha untuk bertahan di dalam rumah tangganya demi anak mereka—Darcy. Arvin juga demikian, masih memikirkan soal anak mereka sampai saat ini, tapi keputusan untuk bercerai sudah ada di depan mata. Perjanjian yang mereka sepakati untuk bercerai adalah ketika Darcy berusia tiga tahun. Hak asuh sang anak jatuh kepada Gina yang diserahkan langsung oleh Arvin. Tapi akan bekerja sama merawat Darcy apa pun yang terjadi. Setidaknya Darcy tidak boleh tahu bahwa hubungan mereka telah hancur—bahkan sebelum Darcy lahir ke dunia ini. Arvin menikahi Gina saat itu karena berpikir itu adalah cara paling besar balas dendam kepada Felysia karena wanita itu menolak untuk menikah. Arvin membuat Gina jatuh cinta sampai mereka menikah. Tapi saat menikah, justru cintanya Arvin tidak pernah hilang untuk Fely. Bencana paling besar bagi Arvin ketika Gina mengatakan dia hamil dengan ekspresi yang paling bahagia—tidak dengar Arvin yang merasa itu adalah kutukan. Tapi Arvin tidak menolak anak itu, ia malah membiarkan Darcy lahir ke dunia. Hubungan Arvin dan Fely kembali lagi dijalin secara diam-diam di belakang orangtuanya Fely, sementara Gina tahu soal itu. Gina menyerah dengan rumah tangga yang sudah coba ditahannya tapi ternyata tidak berhasil juga. Yang membuat Gina lebih menyerah lagi adalah ketika tahu bahwa saingannya adalah kakaknya sendiri. Arvin dan Fely berkhianat di belakang Gina dan itu mengancam rumah tangga Gina hancur lantaran ulah dari dua orang yang menjalin kasih lagi setelah putus.

Bab 1
Delapan Bulan Lagi

Delapan bulan lagi. Akan menyandang status duda.

Berkali-kali ucapan itu selalu jadi alasan mengapa Arvin berusaha untuk bertahan demi rumah tangga dengan Gina yang terjalin hampir empat tahun lamanya. Perjanjian di atas kertas sudah menjadi saksi ikatan yang sudah dijalani oleh mereka berdua tanpa adanya cinta itu akan segera berakhir dengan cepat.

Hanya delapan bulan, maka semua akan benar-benar selesai tanpa harus dipikirkan lagi oleh Arvin. Usianya telah menginjak angka tiga tidak menjadi alasan ia untuk tidak digandrungi banyak wanita. Saat ini masih menjadikan anak yang usianya baru dua tahun empat bulan itu sebagai alasan kuat bertahan.

Gadis mungil di dalam hidupnya yang diterima oleh Arvin. Tapi tidak dengan wanita yang hidup di sisinya—ibu dari anaknya.

Usai rapat dengan beberapa kepala divisi, Arvin keluar dari ruangan rapat dan bertanya pada sekretarisnya yang membawa tablet juga dengan file penting usai rapat barusan yang dilaksanakan sebelum makan siang. “Mila, apa hari ini saya ada kegiatan?”

Berjalan di belakang Arvin dengan cepat, langkah pria bertubuh tinggi itu sangat cepat sekali. Langkahnya sangat panjang sehingga mudah sekali untuk berjalan lebih cepat dari Mila yang tubuhnya tidak setinggi Arvin. “Untuk hari ini hanya ada pertemuan dengan Tuan Tomas, Pak.”

Arvin memasukkan kedua tangannya di saku celana berbahan kain lalu kemudian dia berkata. “Kalau begitu saya ada kepentingan di luar. Untuk pertemuan dengan Papa, beritahu Papa kalau saya akan langsung ke rumah nanti.”

Sudah jam makan siang, yang artinya anaknya sudah waktunya untuk dijemput ke tempat mengajar Gina.

Sekosong apa pun hatinya Arvin masih tetap ada Dacry di dalam hidupnya—sampai saat ini. Arvin tidak pernah mengatakan tidak jika itu berkaitan dengan anaknya.

Menikah tidak tinggal di satu rumah yang sama dengan istrinya sedari awal. Arvin tidak ada perasaan pada istrinya.

Jam sudah menunjukkan sebentar lagi waktunya untuk mengajak putri kecilnya jalan-jalan.

Sampai di depan PAUD tempat Gina mengajar. Pria itu turun dari mobilnya mencari keberadaan anaknya di ruang guru. Arvin sudah biasa menjemput anaknya kalau sudah waktunya ke sana.

Arvin punya kebebasan mencari Darcy ke ruang guru karena sudah biasa menjemput anaknya ke sana.

Kalau untuk masuk langsung Arvin tidak akan berani. Lantaran masih ada etika harus menjaga nama baiknya. Menunggu di luar lebih baik dia lakukan sembari menghubungi istrinya.

Tidak lama anaknya keluar dengan ekspresi yang sangat bahagia. “Papa,” Arvin menyambut dengan senyuman.

“Aku jemput kamu nanti malam,” ujarnya kepada sang istri yang baru keluar dari ruang guru. “Aku berangkat sama, Darcy.”

Darcy selalu bahagia setiap kali Arvin mengatakan akan datang menjemput. Meski anak itu tidak tahu bahwa pernikahan sudah diujung tanduk. Tepat di hari ulang tahun Darcy yang ketiga tahun hubungan Arvin dan Gina akan berakhir di pengadilan untuk perceraian. Hak asuh Darcy memang jatuh kepada Gina sudah diikhlaskan oleh Arvin. Akan tetapi untuk nafkah dan kebutuhan lainnya akan tetap diberikan kepada sang anak.

Ia pergi membawa Darcy jalan-jalan siang ini. Makan siang di luar sudah biasa dilakukan berdua oleh Arvin bersama buah hati. Atau terkadang mengajak Darcy ke tempat bermain.

“Papa nggak sibuk?” anak itu bertanya waktu Arvin menggendong Darcy.

Biasanya memang jarang sekali bisa bertemu dengan Darcy lantaran sibuk dalam pekerjaan. Orangtuanya meminta untuk bertemu, namun Arvin akan menjemput Gina nanti untuk diajak ke rumah orangtuanya.

Semua orang tahu bahwa hubungan mereka tidak pernah baik. Memangnya siapa yang bisa mengatur perasaan Arvin saat ini? Orangtuanya? Gina? Darcy? Sama sekali hati Arvin mati untuk Gina.

Setidaknya pria tiga puluh empat tahun ini sudah berusaha untuk di sisi anak perempuannya di hari yang dibutuhkan. “Papa sibuk, tapi mau ajakin adek main.”

Anaknya tidak pernah terlibat di dalam urusan Arvin dengan Gina.

Sembari mengajak Darcy makan siang dengan suasana hatinya yang membaik untuk siang ini. Menjadi teman Darcy bercerita. Anaknya pintar bicara, meski masih cadel. Bergaul dengan anak-anak PAUD karena selama ini diajak mengajar oleh Gina sedari Darcy kecil. Tidak heran kalau anaknya pandai berkomunikasi dan bernyanyi.

“Papa, kenapa nggak pelnah di lumah?”

Cepat atau lambat juga Darcy akan paham soal ini. Pernikahannya dengan Gina memang tidak pernah diinginkan oleh Arvin. Namun kehadiran Darcy yang tidak bisa ditolaknya. Bukan karena dia menginginkan perceraian lalu menyakiti hati anaknya. Tapi Arvin punya wanita yang harus dinikahinya tanpa harus melupakan si kecil.

Arvin masih ada di restoran tempat dia makan bersama anaknya. “Papa kan kerja.”

Anaknya mengangguk. Anak itu lalu meminta disuapi oleh Arvin.

Perceraian yang akan terjadi delapan bulan lagi. Lalu menikah lagi, Arvin sudah siapkan semua itu. Orangtuanya tahu akan hal itu. Karena semua

sudah keputusan Arvin, maka semua juga akan selesai dengan cepat.

Gina juga tidak pernah peduli bagaimana kehidupan Arvin di luar, Gina juga tidak peduli soal rumah tangga mereka. Yang penting untuk urusan anak bisa mereka kerjasama untuk mengurus si kecil.

Sewaktu mereka makan siang, Arvin mendapatkan pesan dari kekasihnya. “Aku lagi di kantor kamu. Lagi di mana?”

Ada Darcy, tidak mungkin dia pertemukan. “Aku sedang ada rapat di luar. Kamu jangan ke kantor dulu.” Balasnya kepada wanita itu.

Sementara dia melihat ke arah Darcy dengan tatapan yang indah sekali. Mirip dirinya sehingga Arvin tidak menolak ini adalah darah dagingnya. “Sayang, makan dulu. Kita main setelah ini. Terus kita pulang, ya.”

Darcy mengiyakan dan selalu membuka mulut kalau Arvin yang menyuapi.

Arvin juga ikut makan sembari anaknya mengunyah. “Papa, adek kenyang.”

“Sudah?”

“Ya, adek makan banyak.”

Arvin mengajak anaknya jalan-jalan setelah makan siang, mengajak si kecil bermain dengan puas. Waktu yang dia berikan kepada Darcy memang baik kalau dia sudah berjanji akan menemani anaknya bermain. Tapi pernikahan tanpa ada rasa cinta yang tidak bisa Arvin pertahankan. Dulu juga waktu menikah sudah menjadi perjanjian kalau Arvin akan bercerai jika anaknya sudah berumur tiga tahun.

Lalu Arvin punya wanita lain yang harus dia jadikan istri karena mencintai wanita itu.

Puas mengajak anaknya bermain dan membelikan mainan untuk anaknya. Arvin mengajak Darcy pulang dan menjemput Gina.

Mereka akan tidur di rumah orangtuanya Arvin setiap malam Minggu.

Arvin mandi terlebih dahulu, anak dan istrinya sudah ada di meja makan bersama semua orang-orang yang tinggal di rumah ini. “Aku keluar dulu, Ma.”

“Vin, makan di rumah.”

Arvin menggeleng, dia harus pergi dengan kekasihnya untuk bermalam Minggu. Selama menikah Arvin tidak pernah satu meja dengan istrinya sampai detik ini. Pria itu menoleh ke arah mamanya dan menjawab. “Aku ada keperluan, Ma.”

Sona harus bagaimana? Menghadapi Arvin itu tidak pernah mudah. Apalagi suaminya juga tidak bisa mengendalikan anaknya. Mengajari bagaimana cara untuk mengikat rumah tangga dengan atas dasar cinta.

Di luar sana entah apa yang dilakukan oleh Arvin. Mereka semua tidak tahu, kesibukan yang seperti apa membuat Arvin selalu pergi saat jam makan malam jika ada anak dan istrinya di rumah.

“Papa hati-hati, ya!” pesan anaknya.

Darcy melambaikan tangan, dibalas dengan senyuman oleh Arvin lalu pergi dari rumah.

Suasana makan malam terasa canggung setiap kali ada Gina di sini.

Delapan bulan lagi usia pernikahan anak mereka. Ekspresi Gina tetap saja ramah sedari dulu. Kalau memang tidak cinta? Kenapa Arvin malah menikah? Pertanyaan itu yang terus saja membuat Sona hancur setiap kali mendengar anaknya berkata bahwa pernikahan itu akan berakhir sebentar lagi.

“Gina, apa mengajarmu lancar?” pertanyaan yang sama setiap kali bertemu tidak pernah dilupakan oleh Sona.

Bahkan ekspresi Tomas yang sedang menyantap makan malamnya sudah hafal dengan gerak-geriknya Sona. “Lancar, Ma. Darcy juga punya banyak teman. Dia nggak pernah bikin ribut di sekolah.”

Seusia Darcy mana paham soal perceraian yang akan dilakukan oleh Arvin. Menggugat istrinya kurang dari setahun lamanya. Dadanya Sona sesak kalau tahu pernikahan sang anak hanya bertahan selama Darcy berusia tiga tahun. Ingin kalau pagi tidak akan berganti malam, atau malah sebaliknya.

Usai makan malam itu, Darcy juga sudah tidur. Arvin belum kembali lagi ke rumah. Sementara Sona bersama dengan suaminya ada di kamar sedang menyelam ke dalam pikiran masing-masing.

“Arvin ….”

Ucap mereka bersamaan.

Lalu Sona mengatakan. “Papa yang duluan.”

Tomas menarik napasnya dalam-dalam lalu berkata. “Papa dukung Arvin bercerai.”

Sementara Sona yang mendengar itu marah, ada apa sebenarnya antara anaknya dengan Gina? Kenapa malah mau bercerai saat Darcy berusia tiga tahun? Mereka menikah atas dasar apa? Kalau tidak cinta, seharusnya Arvin jangan menikah dan Darcy tidak perlu ada di dunia ini sebagai korban. “Kenapa Papa berpikiran seperti itu?”

“Darcy adalah korban dari keegoisan, Arvin, Ma. Kalau dibiarkan bertahan. Papa kasihan sama, Gina.”

Alasan yang memang logis, tidak perlu bertahan hanya demi anak. Sementara Arvin tidak jelas mau membawa hubungan ini ke mana. Anaknya memang benar-benar sudah lepas kendali dengan pertanyaannya untuk menceraikan Gina.

“Dengan begitu, Gina bisa bebas. Kenapa harus diikat dengan cara seperti ini tapi Arvin tidak pernah tahu bagaimana cara membesarkan Darcy dengan keadaan yang rumit ini. Kita sendiri nggak pernah tahu alasan mereka. Apa waktu mereka sedang pacaran dulu ada masalah lalu mereka ungkit. Sementara Arvin juga nggak pernah ngomong sama kita.”

Sampai detik ini mereka berdua masih bertanya di dalam pikiran masing-masing. Tidak ada yang berani bercerita. Mereka tidak tahu juga orangtuanya Gina. Tidak pernah bertemu selama ini.

Unduh Buku