back
Unduh aplikasi
icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Pengaruh Mantera Sihir Sang Alpha

Pengaruh Mantera Sihir Sang Alpha

eGlobalPublishing

5.0
Ulasan
1.9K
Penayangan
40
Bab

Ketika Raven si penyihir muda membunuh seorang manusia serigala untuk membela diri, ia tidak menyangka betapa pelik keadaannya. Untuk mencegah perang, Raven dikirim untuk melayani Alpha Alaric, pria berbahaya yang dikenal membenci penyihir. Saat Raven membiasakan hidupnya di pihak musuh, dia terkejut mendapati ketertarikannya terhadap Alaric terbalaskan. Apakah Raven akan bertahan hidup di antara para manusia serigala dan berhasil menghentikan perang? Ataukah ia akan termakan hasrat berbahayanya sendiri? *** "Kau pandai bicara juga, Raven. Tapi aku rasa mulut itu tidak sepenuhnya kau manfaatkan," bisiknya dengan suara menggairahkan. Aku gemetar karena ia dekat sekali dan sedikit menggeram. Aku ingin menggapai dan menyentuh wajahnya, membuka bibirku agar ia bisa menciumku. "Memang akulah yang penyihir, tetapi justru aku sendiri yang terpikat pengaruh mantera sihir sang Alpha." Pengaruh Mantera Sihir Sang Alpha diciptakan oleh Jessica Nicole, seorang penulis eGlobal Creative Publishing.

Bab 1
: Kesalahan Mematikan

Aku membunuh seorang pria.

Aku tertunduk melihat kearah mayat yang keriput itu dan menggigil jijik. Perasaan ngeri yang muncul bukan karena apa yang telah aku lakukan, tetapi karena apa yang baru saja berhasil aku hindari dengan membunuhnya. Dia menyerangku dan mencoba memperkosaku. Manusia serigala, pikirku, tidak lebih dari sekedar binatang. Aku tidak pernah sedikitpun bermaksud untuk membunuhnya, aku hanya berusaha membela diri. Tapi mantraku lepas kendali. Ketakutan dan kemarahan memuncak dalam diriku dan menciptakan kekuatan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Aku tidak bisa mengontrol kekuatanku dan setelah aku sadar, itu semua sudah terlambat. Itu terlalu kuat untuk dapat dikendalikan, bahkan oleh seorang shifter sekalipun.

Aku menatap kosong pada darah yang memenuhi tanganku dan seketika itu juga aku merasa menyesal telah menghilangkan nyawanya, walaupun aku tau makhluk itu layak diberi pelajaran. Persekutuanku pasti akan sangat murka mengetahui apa yang telah aku lakukan, tetapi mau tidak mau mereka harus diberi tau tentang apa yang sebenarnya terjadi. Jenis ketakutan lain memenuhi pikiranku saat aku membayangkan harus memberi tahu Penyihir Tinggi tentang pelanggaranku. Ini hanya akan membuatnya semakin tidak suka padaku.

Aku bergegas menembus kegelapan malam menuju rumah temanku Rowena. Mungkin jika aku menjelaskan kejadiannya pada dia dan ibunya terlebih dahulu, mereka akan dapat membantuku memberi tahu anggota yang lain. Aku sebenarnya selalu benci jika harus bergantung pada orang lain, tetapi kali ini berbeda, aku tidak punya pilihan lain. Aku butuh dukungan untuk menjelaskan perbuatanku di hadapan persekutuan dan mengakui bahwa aku baru saja melakukan hal yang dapat memantik peperangan antara para penyihir dan manusia serigala. Aku mungkin telah menabuh genderang perang antara dua musuh yang menakutkan.

Sesampainya disana, aku buru-buru menggedor pintu rumahnya. Rowena membuka pintu dengan senyum menyeringai di wajahnya.

"Raven! Apa yang membuatmu datang ke rumahku larut malam seperti ini? Tentu saja aku senang bertemu denganmu tapi..." seketika dia terdiam saat melihat ekspresiku, pakaianku yang sobek dan tubuhku yang dipenuhi dengan luka.

"Ya Tuhan, apa yang terjadi? Masuklah," ucapnya dengan cemas, aku bergegas mengikutinya berjalan ke dalam. Dia membawaku ke dapur di mana ibunya sedang mencampurkan herbal-herbal untuk membuat teh. Dia menoleh ke arahku dengan raut wajah yang terlihat sangat terkejut.

"Raven! Kamu baik-baik saja? Apa yang terjadi denganmu?" Ibu Rowena bertanya penuh kecemasan.

"Aku baik-baik saja, Moira. Tapi aku baru saja melakukan suatu hal yang mengerikan," aku berkata lirih dengan air mata yang berlinang. Kepeduliannya membuat hatiku luluh. Peristiwa malam itu terus berputar di otakku saat aku mencoba menyusun kalimat yang tepat untuk menjelaskan apa yang telah terjadi.

"Katakan padaku, sayang, apa yang kamu lakukan? Dan bagaimana pakaianmu bisa robek?" dia bertanya dengan penuh keingin tahuan.

"Seorang manusia serigala menyerangku. Dia mencoba... untuk memperkosaku. Jadi aku mencoba menggunakan kekuatanku untuk membuatnya menjauh dariku, namun itu malah membunuhnya, " jelasku sambil tertunduk penuh penyesalan. Aku yakin dia tidak ingin putrinya bergaul dengan seorang pembunuh dan betapa sedihnya membayangkan kehilangan mereka yang sudah kuanggap sebagai keluargaku sendiri. Rowena meraih tanganku dan memegangnya erat-erat dan Moira melingkarkan lengannya di bahuku.

"Aku sangat prihatin dengan apa yang baru saja menimpamu, Raven. Manusia serigala adalah makhluk tercela dan kamu tidak perlu merasa malu atas apa yang telah kamu lakukan. Tapi kita harus segera memberitahu persekutuan. Sebelum ini semua menjadi semakin memburuk. Aku rasa manusia serigala itu berasal dari kawanan Dark Moon karena merekalah yang paling dekat dengan perbatasan kita, tetapi bagaimanapun juga kita harus memiliki rencana, "dia berkata dengan tenang, aku mengangguk setuju. Lalu Moira mulai menggunakan kekuatannya untuk mengirim pesan ke semua penyihir di dewan agar segera melakukan pertemuan.

Syukurlah Moira ada di dewan sehingga dia bisa membantuku. Aku tidak tahu apa yang akan mereka lakukan padaku, aku takut akan hukuman yang akan mereka jatuhkan. Kami semua menuju ke aula pertemuan, yang merupakan sebuah bangunan berbentuk bundar kecil tepat di tengah-tengah lingkungan kami. Pesan itu menyebar dengan cepat dan semua anggota dewan penyihir telah datang. Saat kami masuk, Moira mengambil tempatnya di salah satu podium.

Ruangan itu berbentuk melingkar dengan sebuah platform di tengah, Tempat duduk tinggi yang mirip seperti kursi hakim berada di depan, menghadap kepada jejeran tempat duduk untuk orang-orang yang datang menyaksikan pertemuan. Rowena mengambil tempat duduk di area pengunjung sedangkan aku berdiri tepat di tengah ruangan.

Seluruh anggota dewan berdiri dari tempat duduk mereka saat Penyihir Tinggi masuk. Sikap agung dan bangsawannya terlihat sangat terhormat, dia bahkan tidak melirik sedikitpun ke arahku saat mengambil tempat duduk utama di tengah para dewan penyihir.

"Jelaskan padaku kenapa kita semua dikumpulkan disini larut malam seperti ini, Raven," Penyihir Tinggi bertanya dengan angkuh. Dia berhasil mengintimidasiku, tetapi aku tetap berusaha terlihat tenang.

"Seorang manusia serigala menyerangku dan aku menggunakan kekuatanku untuk membela diri. Tapi aku tidak tahu bahwa itu terlalu kuat hingga membunuhnya, "jawabku. Gumaman kaget seketika memenuhi ruangan itu. Penyihir Tinggi menunjukkan ketidaksenangannya dan menge

rutkan keningnya dengan marah padaku.

"Kau membunuh manusia serigala? Apa kau sadar dengan apa yang telah kau perbuat? Hubungan bangsa penyihir dengan manusia serigala tidak pernah baik. Tetapi sekarang, kau telah memperburuk semuanya, perbuatanmu bisa memicu perang! Apa kau sadar itu!!" Tegasnya dengan lantang.

"Aku hanya mencoba membela diri-" jawabku yang langsung segera dipotongnya.

"Diam! Kau bisa saja membela diri tanpa harus membunuhnya! Sekarang yang harus kita lakukan adalah mencari cara untuk membersihkan kekacauan yang baru saja kau perbuat," bentaknya padaku.

"Lavinia, kupikir kita harus mempertimbangkan bahwa manusia serigala menyerangnya lebih dulu. Aku yakin dia tidak pernah berniat membunuhnya," kata Moira untuk membelaku. Lavinia menolehkan pandangan ke arahnya dengan penuh amarah.

"Bagaimanapun juga, Moira, dia telah membunuh manusia serigala. Kawanan Dark Moon akan sangat tersinggung dan Alpha mereka bukanlah tipe pemaaf-" ucapan Penyihir Tinggi terpotong oleh dentuman keras dari pintu yang dibuka dengan kuatnya, menciptakan suara yang bergema memenuhi ruangan itu.

"Aku ingin tahu siapa di antara kalian yang membunuh anak buahku!" suara tersebut bergemuruh lantang, aku berbalik dan melihat sesosok pria tinggi besar berjalan memasuki ruangan dengan penuh amarah. Jelas dia adalah Alpha dari Kawanan Dark Moon.

Aku menelan ludah saat menatapnya. Tingginya lebih dari enam kaki dengan rambut cokelat tua dan mata biru keabu-abuan yang tajam. Jenggotnya dipangkas rapi menutupi rahangnya yang kuat, pembawaannya menyiratkan bahwa dia adalah seorang pria yang berkuasa. T-shirt hitam ketat dan celana jinsnya mencengkeram erat setiap lekukan tubuhnya yang berotot dan aku merasa tubuhku memanas seketika memandangnya.

Aku merasakan suatu perasaan aneh saat aku melihatnya, perubahan emosi yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya. Sesuatu dalam diriku seolah menyuruhku untuk berlari ke arahnya dan melemparkan diriku ke dalam pelukannya. Aku merasa bingung dan takut dengan apa yang kurasakan saat ini, aku berusaha untuk berpikir jernih dan mengabaikan perasaan itu. Pria ini bisa membunuhku kapan saja.

"Alaric, sungguh tak kusangka akan melihatmu disini," ucap Lavinia dengan senyum palsu. Pria itu menatap tajam pada Lavinia, tatapan yang seakan menusuk jauh kedalam dirinya.

"Tidak usah berbasa-basi, Lavinia, tentunya kamu sudah tahu kenapa aku di sini. Aku diberitahu oleh anggota kawananku bahwa mereka baru saja menemukan mayat salah seorang anak buahku di perbatasan, dan aku kesini untuk menuntut jawaban, "ucapnya dengan penuh ketegasan.

"Aku benar-benar tidak tahu jika yang terbunuh itu adalah anggotamu. Kami berkumpul disini untuk mendiskusikan hukuman yang layak bagi Raven atas kejahatannya, "kata Lavinia terburu-buru. Alaric berjalan mendekatiku dan menatapku dengan tajam. Dia berdiri tepat di depanku dengan ekspresi terkejut di wajahnya. Dia menarik napas dalam-dalam dan menutup matanya sejenak seolah sedang menghisap roh keluar dari tubuhku. Ketika dia membuka matanya lagi, dia terlihat lebih marah dari sebelumnya. Aku merasa aku harus bergerak mundur menjauhinya, tetapi aku tidak ingin dia melihat ketakutanku, jadi aku mencoba mengumpulkan keberanian dan berdiri dengan tegak, menatap matanya langsung.

"Kenapa kamu membunuhnya?" dia bertanya padaku dengan nada penasaran.

"Raven bilang dia menyerangnya dan-" Lavinia mulai berbicara untukku tapi Alaric memotongnya.

"Aku bertanya padanya," katanya tegas. Aku menatapnya dengan kelu. Perasaan yang aku rasakan sebelumnya bahkan terasa lebih kuat saat dia berdiri di dekatku, tetapi aku mencoba menutupinya sebisa mungkin agar dia tidak mengetahuinya.

"Dia menyerangku lebih dulu. Aku hanya berusaha membela diri, bukan membunuhnya," jawabku diikuti perasaan bangga dengan betapa tegasnya suaraku terdengar. Alaric mencondongkan tubuhnya kedepan, dan tanpa sengaja aku mencium aroma tubuhnya, saat itu juga tubuhku tiba-tiba terasa begitu bernafsu. Fokuslah Raven, ucapku dalam hati.

"Tapi kau memang membunuhnya. Jadi bagaimana aku harus menghukummu?" tanya Alaric. Tapi alih-alih terdengar jahat, suaranya malah seolah terkesan menggoda. Aku sepertinya terlalu banyak menghayal.

"Kami memiliki banyak pilihan hukuman yang dapat dijatuhkan. Aku mengusulkan agar kita menghapus kekuatan sihirnya dan mengusirnya sehingga dia tidak dapat menyakiti orang lain lagi, "usul Lavinia, jantungku mulai berdetak tidak menentu, itu hal terburuk yang bisa terjadi pada seorang penyihir. Aku menatap Alaric dengan melas seolah memohon padanya untuk tidak menyetujui saran Lavinia. Dia membalasku dengan seringai arogan dan aku langsung tahu bahwa hukuman apa pun yang akan dia berikan mungkin akan lebih buruk.

"Tidak. Dia akan ikut denganku. Dia akan menjalani hukumannya dengan bekerja padaku sampai aku merasa puas, dengan begitulah kesalahannya bisa terbayarkan"jawab Alaric. Mataku melebar saat aku menatapnya dengan heran. Apa yang dia inginkan dariku?

"Alaric, tidak pernah ada aturan seperti itu. Belum pernah sekalipun ada penyihir yang bekerja untuk manusia serigala sebelumnya dan aku yakin kita bisa menemukan hukuman lain yang lebih cocok untuk kejahatan yang dilakukannya," protes Lavinia. Pada titik ini aku merasa lebih baik diusir daripada mengikuti kemauannya. Tapi nasibku terletak pada belas kasihan pria yang berdiri di depanku ini, pria yang baru saja kutemui, pria yang ingin sekali ku sentuh.

"Keputusanku sudah bulat. Dia milikku sekarang," katanya dengan penuh keyakinan yang membuat tubuhku gemetar was-was.

Unduh Buku